Seluruh Pimpinan dan Staf Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin. \"Ramadhan Berlalu, Berkah Kesucian Kita Jaga Selalu\"
Home >> Informasi >> Berita
Berita

15 Mei 20080
Cara Penggunaan Pupuk Organik Cair
Penulis : Nana Namara

Salah satu kendala dalam peningkatan produksi pertanian adalah tidak efisiensinya penggunaan pupuk. Indikator umum yang terlihat di lapangan terjadi kejenuhan pupuk (Levelling of) di mana laju pertumbuhan produksi pertanian semakin menurun, akibat menurunnya aktivitas biologi tanah. Salah satu cara pemupukan yang murah dan mudah dilakukan serta ramah lingkungan adalah penggunaan pupuk organik, dengan kompos dan pupuk kandang. Bahannya banyak tersedia dilapangan dan di kebun para petani, memanfaatkan sampah-sampah rerumputan kering, sisa-sisa tanaman dan bahan organik lainnya. Biofertilizer/Enzym yang telah diformulasi dan dikomposisi sebagai pupuk cair/PPC dapat digunakan sebagai pupuk sekaligus bahan penghancur pengurain kompos. Agar lebih cepat terurai dan diserap tanaman melalui akar dari organik cair yang terkandung dalam Biofertilizer/Enzym dan kompos yang terurai dalam tanah. Hasilnya, sumbangan yang nyata dari jasad mikro terhadap tanah ialah dekomposisi bahan organik melalui proses ini dihancurkan dan selanjutnya unsur hara dalam bentuk organik menjadi tersedia bagi tumbuhan. Sehingga tanah menjadi mantap dan tanaman subur cukup tersedia hara secara alami. Biofertilizer/Enzym dapat digunakan secara fleksibel antara lain untuk pemupukan, penghancuran kompos, penyiangan dan pembumbunan tanaman, hanya dalam satu kali proses aplikasi di pertanaman. Caranya: Pertama, kumpulkan sampah-sampah, daun-daun dan rerumputan kering di sekeliling tunggak pohon tanaman, tarik sampah-sampah organik dengan cangkul. Kedua, siram dengan larutan PPC/Biofertilizer dengan gembor sampai basah dan merata penyiraman dilakukan dua kali, bagian tengah dan di atas permukaan tumpukan sampah/ humus yang sudah kering dan mati. Ketiga, penyiraman dilakukan dua kali, bagian tengah dan atas permukaan tumpukan sampah-sampah/ humus yang sudah kering dan mati, Keempat, tinggi tumpukan 50 cm. Kelima, tumpuk kembali tumpukan sampah atau kompos dengan tanah di sekitar pohon, tebal tanah penutup 10 cm. sehingga menjadi bumbunan atau sekaligus menimbun tunggak pohon dan akar permukaan. Keenam, takaran penyiraman larutan PPC Biofertilizer/Enzym 10x larutan per 10-15 kg kompos atau pupuk kandang per pohon. Ketujuh, dosis PPC Biofertilizer/Enzym : 4cc/liter air atau 40 cc per gembor isi 10 liter. Kedelapan, lakukan pencampuran PPC Biofertilizer di dalam gembor dan aduk-aduk sebelum disiramkan pada kompos atau tanah. Kesembilan, pemupukan dan pembumbunan cara ini dilakukan pada tanaman keras muda dan dewasa seperti tanaman cengkeh, kakao, kopi, kelapa, jambu mete, mangga, jeruk, durian, manggis, Rambutan, dan lain-lain.

Sumber : Sinar Tani | File : | Dibaca : 47710 x


Berita Lainnya

NTB DARURAT KEKERINGAN, PILKADA SERENTAK TERANCAM
29 Juli 2015

Enam kabupaten/kota di Nusa Tenggara Barat (NTB) telah ditetapkan siaga darurat kekeringan. Kekeringan yang meliputi 378 desa itu dikhawatirkan akan mengganggu pelaksanaan Pilkada serentak pada Desember 2015.

KEKERINGAN DI JATIM, 248 HEKTARE PADI GAGAL PANEN
29 Juli 2015

Musim kemarau tahun 2015 cepat berimbas kekeringan di Jawa Timur. Akibatnya, hingga awal Juni 2015, tercatat 248,2 hektare tanaman padi di provinsi paling timur Pulau Jawa itu gagal panen

KEKERINGAN, PETANI JATIM DIIMBAU TANAM KEDELAI
29 Juli 2015

WASPADA ANCAMAN KEMARAU PANJANG TAHUN INI
29 Juli 2015

Makin panas dan kering. Itu yang bakal dirasakan masyarakat Indonesia sejak Mei hingga Oktober 2015 mendatang. Kondisi ini disebabkan karena adanya perubahan cuaca, dari musim hujan ke musim kemarau.

 1 2 3 >  Last ›