:[Terimakasih Atas Kunjungan Anda di Website Resmi Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat (http://diperta.jabarprov.go.id/) dan ikuti juga Media Sosialnya, Follow @dipertajabar dan fb: Diperta Jabar *]
Home >> Informasi >> Artikel
Artikel

Sekilas tentang pengembangan mikro organisme lokal (MOL) untuk pertanian
27 Juli 2012

          Di kalangan para penggiat pertanian organik, mikro organisme lokal atau biasa disingkat MOL sudah begitu familiar dan diterapkan secara luas.  Mereka mengaplikasikan MOL untuk berbagai komoditas usaha taninya.  Aplikasi MOL ini bervariasi pada beberapa petani di beberapa daerah. Vvariasi ini tergantung pada sumber-sumber / bahan pembuatan MOL yang tersedia, kreatifitas dan kemampuan petani yang bersangkutan.  Itulah sebanya keberhasilan menerapkan aplikasi resep MOL tertentu pada suatu daerah / lokasi bisa memberikan hasil yang tidak sama jika diterapkan pada daerah yang lain.

MOL adalah cairan hasil fermentasi yang mengandung mikroorganisme hasil produksi sendiri dari bahan-bahan alami yang tersedia disekeliling kita.  Bahan-bahan tersebut merupakan tempat yang disukai oleh mikroorganisme sebagai media untuk hidup dan berkembangnya mikroorganisme yang berguna dalam mempercepat penghancuran bahan-bahan organik (dekomposer) atau sebagai tambahan nutrisi bagi tanaman. Selain itu MOL dapat juga berperan sebagai pestisida hayati karena kemampuanya dalam mengendalikan beberapa macam organisme pengganggu tanaman (OPT).  MOL juga diindikasikan mengandung zat perangsang tumbuh / fitohormon yang berperan dalam memacu pertumbuhan tanaman seperti hormon Auksin, Giberelin dan Sitokinin.

Keunggulan utama penggunaan MOL ini adalah murahnya biaya untuk pembuatan MOL ini bahan-bahanya tersedia di sekitar kita dan bahkan tidak usah membayar alias bisa diperoleh dengan gratis.  Bahan-bahan untuk membuat MOL menurut beberapa praktisi bisa berasal dari sampah dapur, bonggol pisang, air kelapa, air sisa cucian beras, nasi busuk, terasi busuk, buah-buahan busuk, urine sapi, keong, pucuk-pucuk tanaman atau tapai / peyeum bahkan buah maja. Agar MOL yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik maka bahan-bahan MOL paling tidak harus terdiri dari 3 komponen utama yaitu bahan-bahan sumber karbohidrat, bahan-bahan sumber bakteri dan bahan-bahan sumber glukosa.

Bahan-bahan sumber karbohidrat antara lain air sisa cucian beras, singkong, nasi, atau gandum.  Biasanya yang paling banyak dipergunakan oleh para praktisi MOL antara lain air sisa cucian beras dan nasi (nasi sisa atau nasi busuk).  Bahan – bahan sumber glukosa antara lain air nira, air kelapa, air gula merah atau air gula pasir.  Sedangkan bahan-bahan sumber bakteri yang biasa dipergunakan antara lain bisa keong sawah, bekicot, kulit buah-buahan atau urine sapi, urine kambing, kotoran ternak, atau bahan lainya yang diduga banyak mengandung bakteri yang berguna untuk tanaman dan kesuburan tanah seperti rhizobium sp,azospirillum spazotobacter sppseudomonas spbacillus sp dan bakteri pelarut phospat.

MOL dapat diaplikasikan pada tanaman sebagai pupuk hayati, sebagai starter / biang pengomposan bahan organik maupun sebagai bahan pestisida hayati terutama sebagai fungisida hayati.  Namun seperti disebutkan di atas keberhasilnya masih bervariasi selain itu kandungan mikroorganismenya juga bervariasi dan sampai sekarang masih belum ada kajian yang menyebutkan apa saja kandungan mikroorganisme, kandungan unsur hara maupun kandungan ZPT / hormon yang terdapat pada suatu MOL.  Karena resep maupun bahan – bahan pembuat MOL juga sangat bervariasi sehingga kandungan berbagai mikoroganisme, unsur hara maupun hormonya juga dimungkinkan bervariasi juga.  Namun hal inbi tidak menjadi masalah  bagi kita, yang penting aplikasi MOL ini dapat memberikan manfaat yang nyata bagi petani dan mengurangi biaya usahatani serta dapat meningkatkan kemandirian petani kita.  Justru kehadiran MOL ini dapat memperkaya alternatif berbagai teknologi tepat guna yang dapat diterapkan oleh petani serta dapat merangsang kreativitas dan inovasi petani.

Menurut Sobirin seorang praktisi MOL, ada beberapa contoh MOL yang dapat dibuat dari bahan-bahan yang ada disekitar kita dan aplikasinya, antara lain :
1. MOL buah-buahan untuk membantu malai padi agar berisi
2. MOL daun cebreng untuk penyubur daun tanaman
3. MOL bonggol pisang untuk pengurai saat pembuatan kompos
4. MOL sayuran untuk merangsang tumbuhnya malai padi
5. MOL rebung bambu untuk merangsang pertumbuhan tanaman
6. MOL limbah dapur untuk memperbaiki struktur fisik, biologi, dan kimia tanah
7. MOL protein untuk nutrisi tambahan pada tanaman
8. MOL nimba dan sarawung untuk mencegah penyakit tanaman.

Salah satu MOl yang sudah dikembangkan secara luas adalah MOL bonggol pisang,  disebut sebagai MOL bonggol pisang karena bahan dasarnya adalah bonggol (batang bawah) pohon pisang.  MOL bonggol pisang ini menurut para praktisi dikembangkan pertama kali oleh Alik Sutaryat salah seorang pengembang pertanian organik dan padi SR (System of Rice Intensifications) di Indoesia.

Bahan untuk pembuatan MOL bonggol pisang ini adalah bonggol pisang kurang lebih 5 kg, gula merah 1/2 kg sampai 1 kg dan air cucian beras 10 liter.  Cara pembuatan sangat mudah dan dilakukan oleh siapa saja, bonggol pisang ditumbuk atau dihaluskan kemudian dimasukkan bersama air cuian beras dan masukkan gula merah sambil diaduk rata. Setelah tercampur rata  simpan  larutan dalam drum atau tong plastik.  Tutup dengan plastik yang rapat, beri lubang udara dengan cara memasukkan slang plasti yang dihubungkan dengan botol yang sudah terisi air. Ujung slang plastik harus terendam dalam air (fermentasi anaerob) dan dibiarkan selama 15 hari.

MOL bonggol pisang ini dapat dipergunakan untuk starter pengomposan maupunaplikasi pada tanaman. Untuk pengomposan dapat digunakan sebagai decomposer dengan konsentrasi 1 : 5 (1 liter cairan MOL dicampur dengan 5 liter air tawar), tambahkan gula merah 1 ons, aduk hingga rata, siramkan pada proses pembuatan kompos. Sedangkan untuk aplikasi pada tanaman dengan cara disemprotkan pada berbagai jenis tanaman dengan konsentrasi 400 cc dicampur dengan 14 liter air tawar. Pada tanaman padi, sejak fase vegetatif hingga generatif pasca tanam yaitu hari ke 10, 20, 30 dan 40. Semprotkan pada pagi atau sore hari, hindari penyemprotan pada siang hari.

Untuk MOL – MOL yang lain sudah banyak dikembangkan oleh para praktisi maupun pengembang dengan memanfaatkan berbagai macam bahan alami yang tersedia.  MOL – MOL ini perlu dikaji dan dikembangkan lebih lanjut sehingga manfaatnya bagi tanaman dapat dioptimalkan yang lebbih lanjut dapat meningkatkan kesejahteraan petani kita.


Sumber : penyuluhpertanian.com
Penulis : Admin Penyuluh Perta